Saya juga
nggak tau, kapan saya mulai suka dengan buku, yang saya ingat mulainya dari
komik, lalu cerita bergambar, lalu novel, barulah kebuku-buku non-fiksi,
tepatnya sejarah.
Kecintaan saya terhadap buku mungkin lebih dari yang lainnya di dunia. Dulu pas
kuliah, berkali-kali makan harus mengalah dengan buku, jalan-jalan harus kalah
dengan buku.
Dari banyak
membaca, saya terinspirasi untuk menulis. Bukan untuk dinikmati sendiri, tapi
untuk anak-anak nanti. Agar mereka tahu siapa ayahnya, apa yang ayahnya inginkan
dan perjuangkan.
Sebab
menulis itu memang tak semudah berbicara. tapi berbicara itu mudah dilupakan,
tapi tidak yang ditulis. Yang ditulis tercatat, terdokumentasi, dan mudah
dipertanggungjawabkan.
Bila membaca adalah pengetahuan, maka menulis adalah berbagi pengetahuan. Bila
membaca adalah menambah ilmu, maka menulis adalah mengikatnya, begitu ucap
sahabat Ali bin Abu Thalib.
Maka yang bisa saya wariskan pada anak-anak, bukanlah sedikit ilmu yang mampu
saya kumpulkan, tapi semangat mencintai ilmu, itulah yang lebih berarti,
mendekatkan mereka pada buku.
Sebab ulama semua punya banyak kesamaan, mereka menyukai buku, mereka dekat
dengan buku. Maka biasakan anak-anak kita juga menyukai buku, dekat dengan
timbunan ilmu.
Sebisa mungkin jauhkan godaan-godaan lainnya seperti game, dan televisi, gadget
dan media lainnya. Perbanyak buku walau pajangan, beri mereka godaan untuk
membaca, menambah ilmu.
Sebab ilmu itu selamanya akan didapat, diolah, dan dibagi oleh manusia. Dan
media penyimpanannya adalah buku, disampaikan dari masa ke masa, ide itu tetap,
walau orangnya beda.
-Ustadz Felix Siauw-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar