Rabu, 14 September 2016

Kecintaan Yang Menginspirasi

Saya juga nggak tau, kapan saya mulai suka dengan buku, yang saya ingat mulainya dari komik, lalu cerita bergambar, lalu novel, barulah kebuku-buku non-fiksi, tepatnya sejarah.

Kecintaan saya terhadap buku mungkin lebih dari yang lainnya di dunia. Dulu pas kuliah, berkali-kali makan harus mengalah dengan buku, jalan-jalan harus kalah dengan buku.


Dari banyak membaca, saya terinspirasi untuk menulis. Bukan untuk dinikmati sendiri, tapi untuk anak-anak nanti. Agar mereka tahu siapa ayahnya, apa yang ayahnya inginkan dan perjuangkan.

Sebab menulis itu memang tak semudah berbicara. tapi berbicara itu mudah dilupakan, tapi tidak yang ditulis. Yang ditulis tercatat, terdokumentasi, dan mudah dipertanggungjawabkan.

Bila membaca adalah pengetahuan, maka menulis adalah berbagi pengetahuan. Bila membaca adalah menambah ilmu, maka menulis adalah mengikatnya, begitu ucap sahabat Ali bin Abu Thalib.


Maka yang bisa saya wariskan pada anak-anak, bukanlah sedikit ilmu yang mampu saya kumpulkan, tapi semangat mencintai ilmu, itulah yang lebih berarti, mendekatkan mereka pada buku.


Sebab ulama semua punya banyak kesamaan, mereka menyukai buku, mereka dekat dengan buku. Maka biasakan anak-anak kita juga menyukai buku, dekat dengan timbunan ilmu.


Sebisa mungkin jauhkan godaan-godaan lainnya seperti game, dan televisi, gadget dan media lainnya. Perbanyak buku walau pajangan, beri mereka godaan untuk membaca, menambah ilmu.


Sebab ilmu itu selamanya akan didapat, diolah, dan dibagi oleh manusia. Dan media penyimpanannya adalah buku, disampaikan dari masa ke masa, ide itu tetap, walau orangnya beda.


-Ustadz Felix Siauw-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar