Rabu, 28 September 2016

Tentang Bahagia, Hidup ,Topeng dan Fatamorgana



Apa yang terlihat tidak selalu seperti apa yang sebenarnya terjadi..

Mungkin benar yang dikatakan orang-orang terdahulu bahwa hidup ini adalah panggung sandirwara..

Tinggal kita ingin memerankan tokoh yang seperti apa yang semacam apa yang berbentuk apa yang berupa apa atau topeng semacam apa tinggal kita yang memilihnya..

Tapi pastikan bahwa tokoh tersebut benar-benar tokoh yang real/nyata..

Bukan tokoh yang seperti fatamorgana..

Iyaa seperti fatamorgana, yang terlihat dari jauh seperti air yang menyejukkan tapi ketika didekati gersang krontang

Dan setiap orang selalu punya alasan masing-masing mengapa memilih memerankan tokohnya dan memakai topengnya, mengapa membiarkan fatamorgana  terjadi di hari-harinya, ..

Ironis ketika seseorang memakai topeng hanya untuk terlihat bahagia dan serba ada..
Ironis ketika seseorang menggadaikan kedamainan dan ketenangan hatinya hanya untuk sebuah pujian dan pengakuan..
Ironis ketika seseorang harus memilih fatamorgana dari pada hari-hari yang nyata apa adanya..

Terima kasih karena telah memperlihatkanku tentang topeng dan fatamorgana..
Tentang Kedamaian dan ketenangan hati..
Tentang pujian dan pengakuan..

Semua terlihat dihati kita masing-masing.. hati yang selalu merasa cukup dan bersyukur, hati yang selalu merasa ikhlas dan tulus, karena sesungguhnya bahagia itu letaknya ada di hati kita masing-masing, tiada yang perlu tau dan tiada yang perlu disembuyikan

Disini dihati kita masing-masing tak perlu berteriak aku bahagia hanya untuk menunjukkan bahwa kita bahagia, tak perlu tertawa terbahak-bahak, tak perlu menunjukakan kepada siapapun.. iyaa hanya hati kita yang tau jawaban dari arti bahagia itu sendiri..

Hati kita yang tau apa kita memakai topeng yang fatamorgana atau apa adanya..

Rabu, 14 September 2016

Kecintaan Yang Menginspirasi

Saya juga nggak tau, kapan saya mulai suka dengan buku, yang saya ingat mulainya dari komik, lalu cerita bergambar, lalu novel, barulah kebuku-buku non-fiksi, tepatnya sejarah.

Kecintaan saya terhadap buku mungkin lebih dari yang lainnya di dunia. Dulu pas kuliah, berkali-kali makan harus mengalah dengan buku, jalan-jalan harus kalah dengan buku.


Dari banyak membaca, saya terinspirasi untuk menulis. Bukan untuk dinikmati sendiri, tapi untuk anak-anak nanti. Agar mereka tahu siapa ayahnya, apa yang ayahnya inginkan dan perjuangkan.

Sebab menulis itu memang tak semudah berbicara. tapi berbicara itu mudah dilupakan, tapi tidak yang ditulis. Yang ditulis tercatat, terdokumentasi, dan mudah dipertanggungjawabkan.

Bila membaca adalah pengetahuan, maka menulis adalah berbagi pengetahuan. Bila membaca adalah menambah ilmu, maka menulis adalah mengikatnya, begitu ucap sahabat Ali bin Abu Thalib.


Maka yang bisa saya wariskan pada anak-anak, bukanlah sedikit ilmu yang mampu saya kumpulkan, tapi semangat mencintai ilmu, itulah yang lebih berarti, mendekatkan mereka pada buku.


Sebab ulama semua punya banyak kesamaan, mereka menyukai buku, mereka dekat dengan buku. Maka biasakan anak-anak kita juga menyukai buku, dekat dengan timbunan ilmu.


Sebisa mungkin jauhkan godaan-godaan lainnya seperti game, dan televisi, gadget dan media lainnya. Perbanyak buku walau pajangan, beri mereka godaan untuk membaca, menambah ilmu.


Sebab ilmu itu selamanya akan didapat, diolah, dan dibagi oleh manusia. Dan media penyimpanannya adalah buku, disampaikan dari masa ke masa, ide itu tetap, walau orangnya beda.


-Ustadz Felix Siauw-