Bagiku waktu selalu pagi. Diantara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan.
Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi.
Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan terlewati lagi ; malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan, dan helaan napas tertahan.
Mulai pagi dengan senyuman. Jika ingin mewujudkan impian, maka langkah pertama yang dilakukan adalah “bangun”.
Hidup ini layaknya cermin, jika kamu tersenyum maka ia akan balik tersenyum. Jika kamu marah dan bersedih, maka hidup pun akan demikian.
Seberapa baik ataupun buruk hidup, selalu syukuri karena setidaknya masih bisa terbangun setiap pagi dan menikmati dengan cara yang baik. Terkadang kamu hanya perlu menciptakan matahari dalam hidupmu.
Pagi adalah sebuah berkah yang indah. Tak masalah cerah atau mendung. Karena pagi adalah awal untuk memulai sesuatu yang disebut KEHIDUPAN.
Jangan pernah mencoba menjadi orang lain. Setiap orang itu berbeda dan kamu unik dengan caramu. Banggalah pada dirimu.
Di Pagi yang cerah ini...,
Mulailah meraih apa yang menjadi harapanmu. Sukses bukanlah ukuran seberapa besar impianmu, tapi seberapa banyak yang kamu lakukan.
Selamat pagi, lakukan yang terbaik hari ini. Because, today is your day!
===============================================================
Selasa, 30 Agustus 2016
Sabtu, 27 Agustus 2016
Terima Kasih Ibu Lebih dari 20 Tahun Menjagaku
Tak ada kata yang mampu menjelaskan, tak ada penjelasan yang mampu menampung semua ungkapan terima kasihku yang jelas aku akan melakukan semua yang terbaik untukmu ibu apapun itu..
Sudah lebih dari 20 tahun engkau menjagaku, sekarang sudah waktunya aku ganti menjagamu, mewujudkan semua pintamu yang pasti itu juga terbaik untukku, menyempurnakan harapan dan doamu untuk anak2mu..
Semua doaku tak berarti tanpa restumu, semua upayaku tak lengkap tanpa doa mu sungguh engkaulah keramat itu, engkau lah surgaku..
Sebelum kutundukkan diri ini pada lelaki yang akan menjadi teman hidupku di dunia dan di akhirat, engkau lah surgaku ibu..
Di telapak kaki mu surgaku berada.. kaki yang selalu melangkah di dunia dengan pasti engkau mengajarkan arti hidup di dunia ini madrasah pertamaku..
Semoga aku bisa menjadi apa yang engkau mau.. sederhana, melakukan apa yang mampu ku lakukan, memberikan yang terbaik dari setiap apa yang kulakukan dan terus belajar
Dan semoga kesehatan keselamatan kesejahteraan ketenangan kebahagiaan kesabaran keteguhan keberkahan kebaikan selalu bersamamu aminn..
Sudah lebih dari 20 tahun engkau menjagaku, sekarang sudah waktunya aku ganti menjagamu, mewujudkan semua pintamu yang pasti itu juga terbaik untukku, menyempurnakan harapan dan doamu untuk anak2mu..
Semua doaku tak berarti tanpa restumu, semua upayaku tak lengkap tanpa doa mu sungguh engkaulah keramat itu, engkau lah surgaku..
Sebelum kutundukkan diri ini pada lelaki yang akan menjadi teman hidupku di dunia dan di akhirat, engkau lah surgaku ibu..
Di telapak kaki mu surgaku berada.. kaki yang selalu melangkah di dunia dengan pasti engkau mengajarkan arti hidup di dunia ini madrasah pertamaku..
Semoga aku bisa menjadi apa yang engkau mau.. sederhana, melakukan apa yang mampu ku lakukan, memberikan yang terbaik dari setiap apa yang kulakukan dan terus belajar
Dan semoga kesehatan keselamatan kesejahteraan ketenangan kebahagiaan kesabaran keteguhan keberkahan kebaikan selalu bersamamu aminn..
ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA SMP POKOK BAHASAN HIMPUNAN DENGAN VISUALISASI DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF
ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN
MASALAH MATEMATIKA SISWA SMP POKOK BAHASAN HIMPUNAN DENGAN VISUALISASI DITINJAU
DARI GAYA KOGNITIF
Mei Nurnafiani
Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Pendidikan MIPA, IKIP PGRI Madiun
Abstract : One of subjects who obtained student in education at
school is mathematics. Learning math can not be separated from solving math
problems. Visualization is used to facilitate students in solving problems. The
ability students
of SMP Negeri 1 Kedunggalar in solving mathematical problems, especially subject
of different sets. The big difference in students cognitive style would bring
the ability to solve very different problems. The purpose of this study to
determine the ability of junior high school students mathematical problem
solving subjects set by the visualization in terms of cognitive style field
dependent and field independent. The method used is a qualitative approach with
descriptive explorative. The research subjects consisted of two students who
each have a
cognitive style field dependent and field independent. Data collection
techniques in this study were obtained based on the results of tests and
interviews. The data analysis technique consists of data reduction, data
presentation and conclusion and verification. Technique authenticity of data in
this research is by triangulation time. The conclusion of this research were (1)
Students are able to understand the problem field dependents, able to plan problem solving,
able to perform troubleshooting plan, and is able to check answers. (2)
Students are able to understand the problems of field independents, able to
plan solutions, capable of resolving the problem according to plan, and is able
to check answers.
Keywords: Mathematic Problem Solving Ability, Assemblage, Visualization, Cognitive Stlye
Abstrak : Salah satu mata pelajaran yang diperoleh siswa dalam
pendidikan di sekolah adalah matematika. Pembelajaran matematika tidak
lepas dari pemecahan masalah matematika. Visualisasi digunakan untuk
mempermudah gaya kognitif siswa
tentu memunculkan kemampuan
memecahkan masalah yang berbeda
pula. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SMP pokok
bahasan himpunan dengan visualisasi ditinjau dari gaya kognitif field dependent dan field independent. Metode
penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif
eksploratif. Subyek penelitian terdiri
dari dua siswa yang masing-masing
memiliki gaya kognitif field dependent dan field independent.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh berdasarkan hasil tes dan wawancara. Teknik analisis data terdiri dari
reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan serta verifikasi. Teknik
keabsahan data dalam penelitian ini yaitu dengan triangulasi waktu. Kesimpulan dari hasil penelitian ini
adalah (1) Siswa field dependent mampu memahami masalah,
mampu merencanakan pemecahan masalah, mampu melaksanakan rencana pemecahan
masalah, dan mampu memeriksa kembali jawaban. (2) Siswa field independent mampu memahami masalah, mampu merencanakan
pemecahan masalah, mampu menyelesaiakan masalah sesuai rencana, dan mampu
memeriksa kembali jawaban.
Kata kunci: Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika, Himpunan, Visualisasi, Gaya
Kognitif.
PENDAHULUAN
Salah satu mata
pelajaran yang diperoleh siswa dalam pendidikan di sekolah adalah matematika.
Dari berbagai bidang studi yang diajarkan di sekolah, matematika merupakan
bidang studi yang dianggap paling sulit oleh para siswa. Meskipun demikian
Cockroft (dalam Abdurrahman, 2010 : 253) mengemukakan bahwa matematika perlu
diajarkan kepada siswa karena selalu digunakan dalam segala segi kehidupan;
semua bidang studi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai; merupakan
sarana komunikasi yang kuat, singkat, dan jelas; dapat digunakan untuk
menyajikan informasi dalam berbagai cara; meningkatkan kemampuan berpikir
logis, ketelitian, dan kesadaran keruangan; dan memberikan kepuasan terhadap
usaha memecakan masalah yang menantang.
Pembelajaran matematika tidak lepas dari
persoalan atau masalah matematika. Masalah-masalah yang sering dihadapi siswa
berupa soal-soal atau tugas-tugas yang harus diselesaikan siswa. Pemecahan
masalah dalam hal ini adalah aturan atau urutan yang dilakukan siswa untuk
memecahkan soal-soal atau tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Semua pemecahan masalah melibatkan beberapa
informasi dan untuk mendapatkan penyelesaiannya digunakan informasi tersebut. Informasi-informasi ini pada umumnya merupakan
konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika. Pemecahan
masalah sebagai tujuan dan sebagai proses merupakan kegiatan yang penting dalam
pembelajaran matematika, karena kemampuan pemecahan masalah yang diperoleh
dalam suatu pembelajaran matematika pada umumnya dapat ditransfer untuk
digunakan dalam memecahkan masalah lain.
Pemecahan masalah merupakan salah satu
kemampuan mendasar yang harus dimiliki siswa dalam pembelajaran matematika. Pemecahan masalah menjadi penting
dalam tujuan pendidikan matematika disebabkan karena dalam kehidupan sehari-hari manusia memang
tidak lepas dari masalah. Aktivitas memecahkan masalah
dapat dianggap suatu aktivitas dasar
manusia. Masalah harus dicari jalan
keluarnya oleh manusia itu sendiri, jika tidak mau dikalahkan oleh kehidupan.
Meskipun pemecahan masalah merupakan aspek yang
penting, tetapi kebanyakan
siswa masih lemah dalam hal pemecahan masalah matematika.
Kelemahan kemampuan pemecahan masalah siswa dapat dilihat dari hasil tes PISA
(Programme for International Student Assessment). Berdasarkan hasil survey PISA
2009 menurut OECD (2010: 131), sebanyak 49,7% siswa Indonesia
mampu menyelesaikan masalah rutin yang konteksnya masih umum, 25,9%
siswa mampu menyelesaikan
masalah matematika dengan menggunakan rumus,
dan 15,5% siswa mampu melaksanakan prosedur dan strategi dalam pemecahan masalah. Sementara itu
6,6%
siswa
dapat menghubungkan
masalah dengan
kehidupan nyata dan 2,3% siswa mampu menyelesaikan masalah yang
rumit dan mampu merumuskan, dan mengkomunikasikan hasil temuannya.
Ini
berarti presentase siswa
yang
mampu memecahkan masalah
dengan
strategi
dan prosedur yang
benar masih
sedikit
jika dibandingkan dengan presentasi siswa yang
menyelesaikan masalah dengan
menggunakan rumus.
Pentingnya pemecahan masalah bahkan
tercermin dalam konsep kurikulum berbasis kompetensi. Tuntutan
akan kemampuan pemecahan masalah dipertegas secara
eksplisit dalam kurikulum tersebut yaitu, sebagai kompetensi dasar yang
harus dikembangkan dan diintegrasikan pada sejumlah materi yang sesuai.
Pentingnya kemampuan pemecahan masalah matematika ditegaskan juga o
leh Branca
(dalam Syaiful, 2012: 37) sebagai berikut: (a) pemecahan masalah merupakan
tujuan umum pengajaran matematika, (b) pemecahan masalah yang meliputi metode,
prosedur, dan strategi merupakan proses inti dan utama dalam kurikulum
matematika, dan (c) pemecahan masalah merupakan kemampuan dasar dalam belajar
matematika. Walaupun kemampuan pemecahan masalah merupakan kemampuan yang tidak
mudah dicapai, akan tetapi oleh karena kepentingan dan kegunaannya maka
kemampuan pemecahan masalah ini hendaknya diajarkan kepada siswa pada semua
tingkatan.
Siswa SMP merupakan tingkatan pendidikan
yang perlu diajari tentang pemecahan masalah. Hal ini sejalan dengan
perkembangan kognitif Piaget (dalam Asri dkk, 2013: 35) berdasarkan
perkembangan kognitif dari Piaget, anak sekolah menengah pertama termasuk dalam
tahapan operasional formal. Pada tahap tersebut anak berpikir secara lebih
abstrak, idealis, dan logis (hipotetis-deduktif). Kualitas abstraksi pemikiran
pada tingkat operasional formal terlihat jelas dalam kemampuan remaja
menyelesaikan masalah verbal. Ketika remaja mulai berpikir lebih abstrak dan
idealis, remaja juga berpikir secara logis. Anak-anak sering memecahkan masalah
dengan pola trial-error. Mereka
menggunakan pemikiran hipotetis-deduktif, yakni mengembangkan hipotesa-hipotesa
atau perkiraan-perkiraan terbaik, dan secara sistematis menyimpulkan
langkah-langkah terbaik guna pemecahan masalah.
Dalam pemecahan masalah ada beberapa hal
yang digunakan untuk mempermudah siswa dalam memahami, mencerna informasi dan
memecahkan suatu soal atau masalah. Salah satunya adalah dengan visualisasi.
Visualisasi merupakan suatu metode untuk menemukan metode terbaik dalam menampilkan
data untuk mengingat informasi dengan cara penerimaan alami manusia serta
memberikan cara untuk melihat data yang sulit dilihat dengan pemikiran sehingga
peneliti bisa mengamati simulasi dan komputasi, juga memperkaya proses penemuan
ilmiah dan mengembangkan pemahaman yang lebih dalam dan tak diduga.
Suharnan (dalam Darmadi, 2015: 108) mengatakan bahwa agar diperoleh suatu
pemecahan masalah yang benar, seseorang harus terlebih dahulu memahami dan
mengenali gambaran pokok persoalan secara jelas. Suharnan (dalam Darmadi, 2015:
108) juga menjelaskan bahwa visualisasi dapat meningkatkan kinerja ingatan dan
kemampuan berpikir kritis.
Salah satu masalah yang membutuhkan
kemampuan pemecahan masalah dengan visualisasi adalah masalah matematika pada
pokok bahasan himpunan. Hal ini dikarenakan dalam materi himpunan khususnya menggunakan konsep himpunan dalam pemecahan masalah
diperlukan kegiatan mengenali, membayangkan, memperlihatkan, dan menyimpulkan
yang merupakan indikator visualisasi. Selain itu dari observasi yang dilakukan
di SMP Negeri 1 Kedunggalar terlihat bahwa kemampuan siswa dalam menyelesaikan
masalah matematika pokok bahasan himpunan berbeda-beda. Ada siswa yang mengalami kesulitan dan ada siswa yang tidak
kesulitan dalam menyelesaikan soal himpunan. Beberapa siswa menganggap materi himpunan sulit
karena bermacam-macam lambang, notasi ataupun gambar yang
berkaitan dengan himpunan membuat siswa sulit dalam menafsirkan setiap masalah
yang diberikan dalam soal. Oleh
karena itu masih ada siswa yang kurang paham akan materi tersebut.
Selain itu jika dilihat dari pemecahan masalah ada siswa yang cenderung
untuk menggunakan rumus atau cara cepat yang
sudah biasa digunakan, dan ada yang menggunakan
langkah prosedural dari penyelesaian masalah
matematika.
Kemampuan memecahkan masalah tiap-tiap
siswa berbeda-beda jika dilihat dari gaya kognitifnya. Terdapat dua tipe gaya
dalam memecahkan masalah yaitu Field
Dependent dan Field Independent. Gaya
kognitif adalah sikap, pilihan atau strategi yang secara stabil menentukan
cara-cara seseorang yang khas dalam menerima, mengingat, berpikir dan
memecahkan masalah. Diharapkan dengan adanya interaksi dari faktor gaya
kognitif, tujuan, materi, metode pembelajaran serta hasil belajar siswa dapat
dicapai semaksimal mungkin (Uno, 2012: 185). Salah satu dimensi gaya kognitif
yang perlu dipertimbangkan dalam pendidikan adalah gaya kognitif field independent-field dependent.
Menurut Abdurrahman (2010: 172) dimensi gaya kognitif field independent-field dependent menunjuk pada kemampuan seseorang
untuk membebaskan diri dari pengaruh lingkungan pada saat membuat keputusan
tentang tugas-tugas perseptual. Orang yang dalam menghadapi tugas-tugas
perseptual banyak dipengaruhi oleh lingkungan disebut field dependent sedangkan yang tidak mudah terpengaruh oleh
lingkungan disebut field independent.
Anak yang bertipe kognitif field
dependent mudah terkecoh oleh informasi yang menyesatkan sehingga persepsinya
tidak akurat. Sebaliknya, anak yang bertipe field
independent mampu memfokuskan pada sebagian besar data perseptual tersebut.
Eksplorasi siswa yang berbeda
akibat Kemampuan Pemecahan Masalah dan Gaya Kognitif membuat guru harus lebih memahami kemampuan masing-masing siswa.
Sehingga guru dapat mengembangkan teknik-teknik penyampaian informasi dalam
proses pembelajaran terutama dalam pemecahan masalah. Keragaman dari teknik
penyampaian informasi diperlukan karena siswa memiliki kecenderungan yang
berbeda.
Berdasarkan paparan di atas peneliti
ingin melihat gambaran mengenai kemampuan siswa SMP Negeri 1 Kedunggalar dalam
memecahkan masalah matematika pada materi himpunan yang ditinjau dari tipe gaya
kognitif, sehingga peneliti tertarik untuk mengambil judul “Analisis Kemampuan
Pemecahan Masalah Matematika Siswa SMP Pokok Bahasan Himpunan dengan
Visualisasi Ditinjau dari Gaya Kognitif”.
METODE
Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif. Menurut Arifin
(2012: 140) penelitian kualitatif adalah suatu proses penelitian yang dilakukan
secara wajar dan natural sesuai dengan kondisi objektif di lapangan tanpa
adanya manipulasi, serta jenis data yang dikumpulkan terutama data kualitatif.
Melalui
penelitian kualitatif ini, peniliti berusaha untuk mendeskripsikan kejadian
yang menjadi pusat perhatian tanpa mengkondisikan peristiwa tersebut. Dalam
penilitian kualitatif bukan mengkaji kebenaran teori, melainkan membangun
sebuah teori dari hasil pengumpulan data yang ada. Penilitian ini akan
menjabarkan keadaan dan hasil yang diperoleh dari
“Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa SMP Pokok Bahasan
Himpunan dengan Visualisasi Ditinjau dari Gaya Kognitif.”
Jenis
Penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah jenis
penelitian deskriptif eksploratif. Arifin
(2012: 54) menyatakan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang
digunakan untuk mendeskripsikan dan menjawab persoalan suatu fenomena yang
terjadi saat ini. Penelitian ini berusaha mendeskripsikan suatu peristiwa yang
menjadi pusat perhatian tanpa memberikan perlakuan khusus terhadap peristiwa
tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti bukan hanya mendeskripsikan
kejadian yang muncul, namun juga mengeksplorasi penyebab munculnya peristiwa
tersebut.
Sumber data
dalam penelitian ini adalah siswa. Data yang diperoleh dari siswa berupa hasil
tes tentang materi himpunan dan wawancara dengan siswa tersebut.
Sasaran dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kedunggalar tahun ajaran 2015/2016. Subyek penelitian diambil
2 siswa dari kelas
VII,
subyek wawancara dan tes dipilih berdasarkan gaya kognitif field
dependent atau gaya kognitif field
independent yang dimilikinya, dan dapat berkomunikasi lisan serta mampu
mengungkapkan pendapat.
Dalam penelitian ini subyek yang akan
dipilih harus diketahui terlebih dahulu gaya kognitifnya. Pengambilan subyek dalam penelitian ini digunakan tes GEFT. Menurut Ulya (2015: 3) tes GEFT atau Group
Embedded figure Test,
yaitu tes yang digunakan untuk menentukan gaya kognitif siswa
berupa tes psikiatrik yang dikembangkan Witkin (1997). GEFT merupakan tes baku
di Amerika, sehingga perubahan pada GEFT sedapat mungkin tidak dilakukan.
Dengan demikian alat ini tidak perlu diuji cobakan atau dikembangkan Hasbi
(dalam Ulya 2015: 3). Peneliti
menggunakan tes GEFT untuk menentukan gaya kognitif siswa termasuk gaya
kognitif field dependent atau gaya
kognitif field independent. Tes GEFT mengkaji kemampuan siswa
melalui identifikasi bentuk sederhana yang berada dalam pola yang lebih rumit.
GEFT mencangkup tiga bagian. Bagian pertama dianggap sebagai pengantar yang
terdiri dari tujuh soal. Dua bagian yang lain (kedua dan ketiga) masing-masing
terdiri dari sembilan soal.
Setelah diperoleh instrumen tes GEFT, tes dilakukan pada siswa dalam satu kelas.
Selama pengujian, petunjuk di halaman pertama pada awalnya dibacakan. Para
siswa dapat mengerjakan setiap bagian dalam batas waktu 10 menit. Beberapa
siswa yang menyelesaikan bagian dalam waktu lebih pendek tidak dizinkan untuk
melanjutkan ke bagian berikutnya. Setelah dilakukan tes terhadap siswa dalam satu kelas, diperoleh skor
masing-masing siswa. Berdasarkan
skor yang diperoleh masing-masing siswa, dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok gaya kognitif dominan yakni kelompok
field dependent
dan field independent. Dari masing-masing
kelompok diambil 1 siswa, sehingga
didapatkan 2 subyek penelitian. Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah),
sumber data primer (sumber data yang langsung memberikan data kepada peneliti),
dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan, wawancara
mendalam, dan dokumentasi (Sugiyono, 2014: 62-63).
Pengumpulan data pada tes ini dilakukan
dengan cara menghitung jawaban benar dan jawaban salah pada setiap siswa. Jika
siswa menjawab benar maka diberikan skor 1 dan jika salah diberi skor 0. Adapun
skor tertinggi yang menjawab dengan benar semua soal adalah 18. Jika Siswa yang mendapatkan skor tes kurang
dari atau sama dengan 9 (50% dari skor maksimal) akan dikelompokkan dalam gaya
kognitif field dependent, sedangkan siswa yang mendapatkan skor tes
lebih dari 9 (50% dari skor maksimal) akan dikelompokkan dalam gaya kognitif field
independent (Adibah,
2015: 118). Lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel kriteria gaya kognitif
siswa berikut:
Tabel
Kriteria Gaya Kognitif Siswa
Skor
|
Gaya Kognitif
|
0 ≤ s
≤ 9
|
Field Dependent
|
0 < s
≤ 18
|
Field Independent
|
Keterangan s : skor siswa
Tes pemecahan masalah matematika yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal cerita. Tes
pemecahan masalah matematika sebagai instrumen penelitian harus valid. Oleh
karena itu peneliti melakukan beberapa langkah untuk memperoleh instrumen
penelitian yang valid. Pembuatan instrumen penelitian dimulai dengan mencari
referensi tentang soal himpunan kelas VII SMP. Setelah diperoleh beberapa soal
tentang himpunan, peneliti memilih satu soal yang dirasa dapat digunakan untuk
mengukur kemampuan pemecahan masalah siswa. Selanjutnya dilakukan analisis
instrumen. Soal yang digunakan untuk penelitian harus dianalisis terlebih
dahulu dan dikembangkan menjadi pedoman wawancara sehingga diperoleh draft instrumen. Setelah itu instrumen
penelitian harus divalidasi. Validasi yang dilakukan adalah validasi ahli
kepada validator yaitu guru mata
pelajaran matematika. Jika instrumen valid, maka instrumen dapat digunakan untuk
penelitian. Namun jika tidak valid maka peneliti harus membuat instrumen lagi
hingga valid.
Jenis wawancara yang dilakukan oleh
peneliti adalah wawancara semiterstruktur (Semistructure
Interview). Wawancara dilakukan peneliti dengan subyek. Wawancara ini bertujuan
untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika pokok
bahasan himpunann. Wawancara
dilaksanakan pada saat jam istirahat atau pulang sekolah agar tidak mengganggu
kegiatan belajar mengajar pada bidang studi yang lain. Selama pelaksanaan
wawancara, peneliti menggunakan catatan dan hasil pekerjaan siswa dalam
menyelesaikan soal tes. Masing-masing responden diwawancarai secara terpisah
agar data yang diperoleh terjamin keasliannya dan tidak saling mempengaruhi.
Pada penelitian ini digunakan teknik
triangulasi waktu. Triangulasi dilakukan dengan cara membandingkan data yang
diperoleh dari hasil tes dan wawancara pada waktu yang berbeda terhadap subyek
yang sama. Penggunaan metode ini bertujuan untuk mendapatkan temuan yang mendekati
benar. Pada penelitian ini peneliti melakukan tes dan wawancara pada waktu yang
berbeda dan subyek yang sama hingga data jenuh.
Analisis data yang dipilih penulis dalam
penelitian ini berdasarkan analisis selama di lapangan Model Miles &
Huberman. Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2014: 91-99) mengemukakan bahwa
aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan
berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.
Aktivitas dalam analisis data yaitu:
Mereduksi data berarti merangkum, memilih
hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya
dan membuang yang tidak perlu. Pada penelitian ini reduksi data dilakukan
dengan pemberian kode pada transkip wawancara. Pemberian kode digunakan untuk
mempermudah penelusuran data yang penting pada paparan data yang ada.
Setelah data direduksi, maka langkah
selanjutnya adalah menyajikankan
data. Dalam penelitian kualitatif penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk
tabel, grafik, phie chard dan
sejenisnya. Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan,
tersusun dalam pola hubungan sehingga akan semakin mudah dipahami.
Langkah ketiga dalam analisis data adalah
penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih
bersifat sementara dan akan berubah bila ditemukan bukti-bukti yang kuat yang
mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan
yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten
saat penelitian kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang
dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan dalam penelitian
kualitatif yang diharapkan merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah
ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya
masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat
berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematika Pokok Bahasan Himpunan dengan Visualisasi pada Siswa SMP yang
Memiliki Gaya Kognitif Field Dependent.
Memahami Masalah
siswa dengan gaya kognitif field dependent dalam memahami masalah
mampu mengulangi pertanyaan dan menjelaskan bagian terpenting dari pertanyaan
tersebut meliputi apa yang ditanyakan dan apa yang diketahui. Hanya saja dalam
penyelesaiannya di lembar jawab siswa dengan gaya kognitif field dependent menuliskan yang diketahui saja tanpa menuliskan
yang ditanyakan, sesuai dengan langkah pemecahan masalah pertama Polya yaitu
memahami pemecahan masalah.
Merencanakan Pemecahan
Masalah
Dalam merencanakan pemecahan masalah siswa mampu membuat strategi pemecahan masalah dengan memisalkan
siswa yang suka matematika dan suka bahasa inggris. Siswa mampu merencanakan
pemecahan masalah untuk mencari siswa yang suka kedua pelajaran dengan
menggunakan rumus yang sudah pernah dipelajari sebelumnya. Siswa juga mampu
menjelaskan cara mencari siswa yang suka matematika saja dan bahasa inggris
saja, ini berarti siswa dengan gaya kognitif field dependent mampu merencanakan pemecahan masalah dengan baik.
Melaksanakan
Rencana
Siswa
dengan gaya kognitif field dependent dalam
melaksanakan pemecahan masalah siswa juga mampu menghitung siswa yang suka
kedua pelajaran dengan menggunakan rumus. Siswa mampu mencari siswa yang suka
matematika saja dan bahasa inggris saja dengan cara mengurangi siswa yang suka
matematika yang diketahui di soal dengan siswa yang suka keduannya dan siswa
yang suka bahasa inggris yang diketahui di soal dikurangi dengan siswa yang
suka keduanya untuk siswa yang suka bahasa inggris saja. Siswa juga mampu
menggunakan gambar visualisasi berupa diagram venn, siswa menggambar lingkaran dengan menggunakan alat
berupa koin Rp.500 dan menggambar persegi panjang untuk himpunan semesta dengan
menggunakan alat berupa penggaris.
Memeriksa Kembali
Siswa dengan gaya kognitif field dependent memeriksa kembali dengan
membaca sekilas hasil pengerjaannya tanpa membaca berulang-ulang. Dalam
memeriksa kembali siswa dengan gaya kognitif field dependent tidak mencocokkan dan menghitung kembali hasil
pengerjaannya, dan tidak menuliskan lagi kesimpulan dari jawaban permasalahan.
Analisis Kemampuan
Pemecahan Masalah Matematika Pokok Bahasan Himpunan dengan Visualisasi pada
Siswa SMP yang Memiliki Gaya Kognitif Field
Indeependent.
Memahami Masalah
siswa dengan gaya kognitif field independent Dalam memahami masalah
siswa mampu menjelaskan maksud dari pertanyaan dalam soal, selain itu siswa
yang memiliki gaya kognitif field
independent juga mampu menyebutkan dan menuliskan informasi yang terdapat
didalam soal berupa apa yang diketahui dan ditanyakan di dalam soal. Hal ini
berarti siswa dengan gaya kognitif field
independent mampu dengan cermat memahami permasalahan untuk memecahkan masalah
matematika pokok bahasan himpunan.
Merencanakan
Pemecahan Masalah
siswa dengan gaya kognitif field independent Dalam merencanakan
pemecahan masalah siswa mampu menggunakan strategi pemecahan masalah dengan
memisalkan x sebagai siswa yang
menyukai kedua pelajaran, mampu merencanakan pemecahan masalah untuk mencari
siswa yang suka kedua pelajaran dengan menggunakan rumus yaitu dengan
menggambar diagram venn, dan mampu menjelaskan cara mencari siswa yang suka
matematika saja dan bahasa inggris saja, ini berarti siswa dengan gaya kognitif
field independent mampu merencanakan
pemecahan masalah dengan baik dan memunculkan visualisasi berupa diagram venn
dalam merencanakan pemecahan masalah.
Melaksanakan
Rencana
Siswa mampu menghitung siswa yang suka kedua pelajaran dengan
menggunakan rumus. Mampu mencari siswa yang suka matematika saja dan bahasa
inggris saja dengan cara mengurangi siswa yang suka matematika yang diketahui
di soal dengan siswa yang suka keduannya dan siswa yang suka bahasa inggris yang
sudah dikatehui di soal dengan siswa yang suka keduanya. Mampu menggunakan
gambar visualisasi berupa diagram venn. Mampu menggambar lingkaran dengan
menggunakan alat berupa koin Rp.500. Mampu menggambar persegi panjang untuk
himpunan semesta dengan menggunkan alat berupa penggaris. Menuliskan notasi
matematika berupa S sebagai himpunan semesta. Hal ini berarti siswa dengan gaya
kognitif field independent mampu
melaksanakan apa yang telah direncanakan untuk memecahkan masalah, siswa mampu
memunculkan visualisasi dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah dengan
menggambar lingkaran untuk diagram venn dan persegi panjang untuk himpunan
semesta, siswa juga mampu memunculkan notasi dalam visualisasinya.
Memeriksa Kembali
Siswa field
independent dalam memerika kembali siswa mampu memeriksa kembali hasil
pengerjaannya dengan membaca secara berulang-ulang, mampu menghitung dan
mencocokkan kembali hasil pengerjaannya, siswa juga mampu menuliskan kesimpulan
dari hasil pengerjaannya. Hal ini menunjukkan bahwa siswa dengan gaya kognitif field independent mampu dalam memeriksa
kembali hasil pengerjaannya. Jadi, siswa dengan gaya kognitif field independent mampu memeriksa
kembali hasil yang diperoleh, sesuai dengan langkah pemecahan masalah keempat
Polya yaitu merencanakan pemecahan masalah.
Dari pembahasan yang didapat dari hasil
analisis terlihat bahwa siswa dengan gaya kognitif field dependent dan siswa dengan gaya kognitif field independent memiliki kemampuan berbeda dalam memecahkan
masalah. Hal tersebut relevan dengan hasil penelitian Arifin dkk (2015: 26)
yang menyatakan: 1) profil pemecahan masalah matematika siswa Field Dependent adalah: a) Pada memahami
masalah siswa kurang dapat menginterpretasikan soal tersebut dalam pemahamannya
melalui tulisan, b) Pada merencanakan masalah siswa kurang dapat menganalisis
informasi tersebut, c) Pada menyelesaiakan masalah sesuai rencana siswa kurang
dapat menganalisis suatu permasalahan berdasarkan informasi yang telah
didapatkan, d) Pada memeriksa kembali jawaban siswa tidak dapat mengecek
kembali jawabanya sendiri. 2) profil pemecahan masalah matematika siswa Field Independent adalah: a) Pada
memahami masalah siswa dapat menginterpretasikan soal tersebut dalam
pemahamannya melalui tulisan, b) Pada merencanakan masalah siswa dapat
memperoleh informasi sehingga dapat menganalisis informasi tersebut, c) Pada
menyelesaiakan masalah sesuai rencana siswa bisa menganalisis suatu
permasalahan berdasarkan informasi yang telah didapatkan, d) Pada memeriksa
kembali jawaban siswa dapat mengecek kembali jawabanya sendiri.
SIMPULAN DAN SARAN
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Pokok Bahasan Himpunan dengan Visualisasi pada Siswa SMP yang Memiliki Gaya Kognitif Field Dependent tampak ketika memahami
masalah, merencanakan pemecahan masalah, melaksanakan rencana,
dan memeriksa kembali. Ketika memahami masalah siswa mampu membaca soal, mampu
mengulangi pernyataan dan mampu menuliskan informasi dalam soal. Ketika
merencanakan pemecahan masalah siswa mampu membuat strategi pemecahan masalah
dan membuat rumus. Ketika melaksanakan rencana siswa mampu menghitung sesuai rumus
dan mampu memunculkan visualisasi. Ketika memeriksa
kembali siswa mampu membaca hasil pengerjaannya.
Kemampuan
Pemecahan Masalah Matematika Pokok Bahasan Himpunan dengan Visualisasi pada
Siswa SMP yang Memiliki Gaya Kognitif Field
Independent tampak ketika memahami masalah, merencanakan
pemecahan masalah, melaksanakan rencana dan memeriksa kembali. Ketika memahami
masalah siswa mampu membaca soal, mampu mengulangi pernyataan dan mampu
menuliskan informasi dalam soal. Ketika merencanakan pemecahan masalah siswa
mampu membuat strategi pemecahan masalah, mampu memunculkan visualisasi dan
mampu membuat rumus. Ketika melaksanakan rencana pemecahan masalah siswa mampu
menghitung sesuai rumus, mampu
memunculkan visualisasi dan mampu menggunakan notasi matematika. Ketika
memeriksa kembali siswa mampu membaca hasil pengerjaannya, mampu mengecek
kembali jawaban dan mampu menyimpulkan jawaban dari permasalahan.
Berdasarkan
kesimpulan dari hasil penelitian ini sebaiknya guru
merancang, mengembangkan, dan mengelola pembelajaran secara variatif
disesuaikan dengan karakteristik siswa dan materi pelajaran yang disajikan agar
dapat menjangkau dua
tipe gaya kognitif siswa yaitu Field Dependent dan Field
Independent, misalkan dalam materi yang terkait dengan bahasa simbol matematika
guru sebaiknya memunculkan visualisasi dalam pembelajaran agar siswa dapat menyelesaikan masalah matematika
dengan
menampilkan data/informasi dalam bentuk simbol atau gambar. Selain itu, guru dan
sekolah perlu melakukan pengkajian/identifikasi terhadap tipe gaya kognitif
siswa secara keseluruhan. Hal tersebut diharapkan agar guru dapat menyesuaikan
gaya mengajarnya dengan gaya kognitif siswa sehingga tercapai kemampuan pemecahan
masalah yang optimal.
Siswa harus mengembangkan
kemampuannya dalam pembelajaran. Untuk siswa
yang memiliki gaya kognitif field
dependent sebaiknya tidak takut bertanya bila belum jelas dalam memahami
informasi. Untuk siswa yang memiliki gaya kognitif field independent sebaiknya belajar lebih terbuka dan menerima
pendapat orang lain dalam memahami informasi. selain itu siswa harus
sering melatih diri dengan soal-soal latihan khususnya pelajaran matematika.
Dengan berani bertanya dan belajar
terbuka dalam berpendapat menjadikan siswa
berwawasan luas
dan terampil dalam memecahkan masalah.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, M. 2010. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Adibah, F. 2015. Kreatifitas siswa SMA dalam Pemecahan Masalah Matematika
Ditinjau dari Perbedaan Gaya Kognitif
Field Dependent dan Field Independent. Jurnal Widyaloka IKIP Widyadarma Surabaya, 2 (2): 118.
Arifin, S., Rahman, A., dan Asdar. 2015. Profil Pemecahan Masalah Matematika Siswa Ditinjau
dari Gaya Kognitif dan Efikasi diri pada Siswa Kelas VIII Unggulan SMPN1 Watampone. Jurnal Daya Matematis, 3 (1): 26.
Arifin,
Z. 2012. Penelitian Pendidikan Metode dan Paradigma Baru. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Asri
dkk. 2013. Perkembangan Peserta Didik.
Madiun: Ikip PGRI Madiun.
Darmadi.
2015. Profil Berfikir Visual Mahasiswa Laki-laki Calon Guru Matematika dalam
Memahami definisi Barisan Konvergen. Jurnal
Math Educator Nusantara, 1 (2): 108, 109, 127.
OECD.
2010. PISA 2009 results: What Students Know and Can Do – Student Performance
in Reading, Mathematics, and Science
(Volume I). Tersedia di http//dx.doi.org/10.1787/9789264091450-en [diakses pada
tanggal 31
Maret
2016].
Sugiyono,
2014. Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfa Beta.
Syaiful. 2012.
Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Melalui Pendekatan Matematika
Realistik. Edumatica, 2 (1): 37.
Ulya, H. 2015. Hubungan Gaya Kognitif dengan
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa. Jurnal Konseling Gusjigang, 1 (2): 2, 3.
Uno, B. 2012. Orientasi
Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Langganan:
Postingan (Atom)
