Sabtu, 27 Agustus 2016

ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA SMP POKOK BAHASAN HIMPUNAN DENGAN VISUALISASI DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF



ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA SMP POKOK BAHASAN HIMPUNAN DENGAN VISUALISASI DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF

Mei Nurnafiani
Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Pendidikan  MIPA, IKIP PGRI Madiun

Abstract : One of subjects who obtained student in education at school is mathematics. Learning math can not be separated from solving math problems. Visualization is used to facilitate students in solving problems. The ability students of SMP Negeri 1 Kedunggalar in solving mathematical problems, especially subject of different sets. The big difference in students cognitive style would bring the ability to solve very different problems. The purpose of this study to determine the ability of junior high school students mathematical problem solving subjects set by the visualization in terms of cognitive style field dependent and field independent. The method used is a qualitative approach with descriptive explorative. The research subjects consisted of two students who each have a cognitive style field dependent and field independent. Data collection techniques in this study were obtained based on the results of tests and interviews. The data analysis technique consists of data reduction, data presentation and conclusion and verification. Technique authenticity of data in this research is by triangulation time. The conclusion of this research were (1) Students are able to understand the problem field dependents, able to plan problem solving, able to perform troubleshooting plan, and is able to check answers. (2) Students are able to understand the problems of field independents, able to plan solutions, capable of resolving the problem according to plan, and is able to check answers.

Keywords: Mathematic Problem Solving Ability, Assemblage, Visualization, Cognitive Stlye

Abstrak : Salah satu mata pelajaran yang diperoleh siswa dalam pendidikan di sekolah adalah matematika. Pembelajaran matematika tidak lepas dari pemecahan masalah matematika. Visualisasi digunakan untuk mempermudah gaya kognitif siswa tentu memunculkan kemampuan memecahkan masalah yang berbeda pula. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SMP pokok bahasan himpunan dengan visualisasi ditinjau dari gaya kognitif field dependent dan field independent. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif eksploratif. Subyek penelitian terdiri dari dua siswa yang masing-masing memiliki gaya kognitif field dependent dan field independent. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh berdasarkan hasil tes dan wawancara. Teknik analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan serta verifikasi. Teknik keabsahan data dalam penelitian ini yaitu dengan triangulasi waktu. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah (1) Siswa field dependent mampu memahami masalah, mampu merencanakan pemecahan masalah, mampu melaksanakan rencana pemecahan masalah, dan mampu memeriksa kembali jawaban. (2) Siswa field independent mampu memahami masalah, mampu merencanakan pemecahan masalah, mampu menyelesaiakan masalah sesuai rencana, dan mampu memeriksa kembali jawaban.

Kata kunci: Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika, Himpunan, Visualisasi, Gaya Kognitif.



PENDAHULUAN
     Salah satu mata pelajaran yang diperoleh siswa dalam pendidikan di sekolah adalah matematika. Dari berbagai bidang studi yang diajarkan di sekolah, matematika merupakan bidang studi yang dianggap paling sulit oleh para siswa. Meskipun demikian Cockroft (dalam Abdurrahman, 2010 : 253) mengemukakan bahwa matematika perlu diajarkan kepada siswa karena selalu digunakan dalam segala segi kehidupan; semua bidang studi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai; merupakan sarana komunikasi yang kuat, singkat, dan jelas; dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara; meningkatkan kemampuan berpikir logis, ketelitian, dan kesadaran keruangan; dan memberikan kepuasan terhadap usaha memecakan masalah yang menantang.
       Pembelajaran matematika tidak lepas dari persoalan atau masalah matematika. Masalah-masalah yang sering dihadapi siswa berupa soal-soal atau tugas-tugas yang harus diselesaikan siswa. Pemecahan masalah dalam hal ini adalah aturan atau urutan yang dilakukan siswa untuk memecahkan soal-soal atau tugas-tugas yang diberikan kepadanya.  Semua pemecahan masalah melibatkan beberapa informasi dan untuk mendapatkan penyelesaiannya digunakan informasi tersebut. Informasi-informasi ini pada umumnya merupakan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika. Pemecahan masalah sebagai tujuan dan sebagai proses merupakan kegiatan yang penting dalam pembelajaran matematika, karena kemampuan pemecahan masalah yang diperoleh dalam suatu pembelajaran matematika pada umumnya dapat ditransfer untuk digunakan dalam memecahkan masalah lain.
       Pemecahan masalah merupakan salah satu kemampuan mendasar yang harus dimiliki siswa dalam pembelajaran matematika. Pemecahan masalah menjadi penting dalam tujuan pendidikan matematika disebabkan karena dalam kehidupan sehari-hari manusia memang tidak lepas dari masalah. Aktivitas memecahkan masalah dapat dianggap suatu aktivitas dasar manusia. Masalah harus dicari jalan keluarnya oleh manusia itu sendiri, jika tidak mau dikalahkan oleh kehidupan.
Meskipun pemecahan masalah merupakan aspek yang penting, tetapi kebanyakan siswa masih lemah dalam hal pemecahan masalah matematika. Kelemahan kemampuan pemecahan masalah siswa dapat dilihat dari hasil tes PISA (Programme for International Student Assessment). Berdasarkan hasil survey PISA 2009 menurut OECD (2010: 131), sebanyak 49,7% siswa Indonesia mampu menyelesaikan masalah rutin yang konteksnya masih umum, 25,9% siswa mampu menyelesaikan  masalah  matematika  dengan  menggunakan  rumus,  dan  15,5% siswa mampu melaksanakan prosedur dan strategi dalam pemecahan masalah. Sementara  itu  6,6%  siswa  dapat  menghubungkan  masalah  dengan  kehidupan nyata dan 2,3% siswa mampu menyelesaikan masalah yang rumit dan mampu merumuskan,  dan  mengkomunikasikan hasil  temuannya.  Ini  berarti  presentase siswa  yang  mampu  memecahkan  masalah  dengan  strategi  dan  prosedur  yang benar   masih   sedikit   jika   dibandingkan   dengan   presentasi   siswa   yang menyelesaikan   masalah   dengan   menggunakan   rumus.
       Pentingnya pemecahan masalah bahkan tercermin dalam konsep kurikulum berbasis kompetensi.  Tuntutan  akan  kemampuan  pemecahan masalah  dipertegas  secara eksplisit dalam kurikulum tersebut yaitu, sebagai  kompetensi dasar yang harus dikembangkan  dan diintegrasikan pada sejumlah materi yang sesuai. Pentingnya kemampuan pemecahan masalah matematika ditegaskan juga o
leh Branca (dalam Syaiful, 2012: 37) sebagai berikut: (a) pemecahan masalah merupakan tujuan umum pengajaran matematika, (b) pemecahan masalah yang meliputi metode, prosedur, dan strategi merupakan proses inti dan utama dalam kurikulum matematika, dan (c) pemecahan masalah merupakan kemampuan dasar dalam belajar matematika. Walaupun kemampuan pemecahan masalah merupakan kemampuan yang tidak mudah dicapai, akan tetapi oleh karena kepentingan dan kegunaannya maka kemampuan pemecahan masalah ini hendaknya diajarkan kepada siswa pada semua tingkatan.
      Siswa SMP merupakan tingkatan pendidikan yang perlu diajari tentang pemecahan masalah. Hal ini sejalan dengan perkembangan kognitif Piaget (dalam Asri dkk, 2013: 35) berdasarkan perkembangan kognitif dari Piaget, anak sekolah menengah pertama termasuk dalam tahapan operasional formal. Pada tahap tersebut anak berpikir secara lebih abstrak, idealis, dan logis (hipotetis-deduktif). Kualitas abstraksi pemikiran pada tingkat operasional formal terlihat jelas dalam kemampuan remaja menyelesaikan masalah verbal. Ketika remaja mulai berpikir lebih abstrak dan idealis, remaja juga berpikir secara logis. Anak-anak sering memecahkan masalah dengan pola trial-error. Mereka menggunakan pemikiran hipotetis-deduktif, yakni mengembangkan hipotesa-hipotesa atau perkiraan-perkiraan terbaik, dan secara sistematis menyimpulkan langkah-langkah terbaik guna pemecahan masalah.
       Dalam pemecahan masalah ada beberapa hal yang digunakan untuk mempermudah siswa dalam memahami, mencerna informasi dan memecahkan suatu soal atau masalah. Salah satunya adalah dengan visualisasi. Visualisasi merupakan suatu metode untuk menemukan metode terbaik dalam menampilkan data untuk mengingat informasi dengan cara penerimaan alami manusia serta memberikan cara untuk melihat data yang sulit dilihat dengan pemikiran sehingga peneliti bisa mengamati simulasi dan komputasi, juga memperkaya proses penemuan ilmiah dan mengembangkan pemahaman yang lebih dalam dan tak diduga. Suharnan (dalam Darmadi, 2015: 108) mengatakan bahwa agar diperoleh suatu pemecahan masalah yang benar, seseorang harus terlebih dahulu memahami dan mengenali gambaran pokok persoalan secara jelas. Suharnan (dalam Darmadi, 2015: 108) juga menjelaskan bahwa visualisasi dapat meningkatkan kinerja ingatan dan kemampuan berpikir kritis.
       Salah satu masalah yang membutuhkan kemampuan pemecahan masalah dengan visualisasi adalah masalah matematika pada pokok bahasan himpunan. Hal ini dikarenakan dalam materi himpunan khususnya menggunakan konsep himpunan dalam pemecahan masalah diperlukan kegiatan mengenali, membayangkan, memperlihatkan, dan menyimpulkan yang merupakan indikator visualisasi. Selain itu dari observasi yang dilakukan di SMP Negeri 1 Kedunggalar terlihat bahwa kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika pokok bahasan himpunan berbeda-beda. Ada siswa yang mengalami kesulitan dan ada siswa yang tidak kesulitan dalam menyelesaikan soal himpunan. Beberapa siswa menganggap materi himpunan sulit karena bermacam-macam lambang, notasi ataupun gambar yang berkaitan dengan himpunan membuat siswa sulit dalam menafsirkan setiap masalah yang diberikan dalam soal. Oleh karena itu masih ada siswa yang kurang paham akan materi tersebut. Selain itu jika dilihat dari pemecahan masalah ada siswa yang cenderung untuk menggunakan rumus  atau  cara  cepat  yang  sudah  biasa  digunakan, dan ada yang menggunakan langkah prosedural dari penyelesaian masalah matematika.
       Kemampuan memecahkan masalah tiap-tiap siswa berbeda-beda jika dilihat dari gaya kognitifnya. Terdapat dua tipe gaya dalam memecahkan masalah yaitu Field Dependent dan Field Independent. Gaya kognitif adalah sikap, pilihan atau strategi yang secara stabil menentukan cara-cara seseorang yang khas dalam menerima, mengingat, berpikir dan memecahkan masalah. Diharapkan dengan adanya interaksi dari faktor gaya kognitif, tujuan, materi, metode pembelajaran serta hasil belajar siswa dapat dicapai semaksimal mungkin (Uno, 2012: 185). Salah satu dimensi gaya kognitif yang perlu dipertimbangkan dalam pendidikan adalah gaya kognitif field independent-field dependent. Menurut Abdurrahman (2010: 172) dimensi gaya kognitif field independent-field dependent menunjuk pada kemampuan seseorang untuk membebaskan diri dari pengaruh lingkungan pada saat membuat keputusan tentang tugas-tugas perseptual. Orang yang dalam menghadapi tugas-tugas perseptual banyak dipengaruhi oleh lingkungan disebut field dependent sedangkan yang tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan disebut field independent. Anak yang bertipe kognitif field dependent mudah terkecoh oleh informasi yang menyesatkan sehingga persepsinya tidak akurat. Sebaliknya, anak yang bertipe field independent mampu memfokuskan pada sebagian besar data perseptual tersebut.
       Eksplorasi siswa yang berbeda akibat Kemampuan Pemecahan Masalah dan Gaya Kognitif membuat guru harus lebih memahami kemampuan masing-masing siswa. Sehingga guru dapat mengembangkan teknik-teknik penyampaian informasi dalam proses pembelajaran terutama dalam pemecahan masalah. Keragaman dari teknik penyampaian informasi diperlukan karena siswa memiliki kecenderungan yang berbeda.
       Berdasarkan paparan di atas peneliti ingin melihat gambaran mengenai kemampuan siswa SMP Negeri 1 Kedunggalar dalam memecahkan masalah matematika pada materi himpunan yang ditinjau dari tipe gaya kognitif, sehingga peneliti tertarik untuk mengambil judul “Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa SMP Pokok Bahasan Himpunan dengan Visualisasi Ditinjau dari Gaya Kognitif”.

METODE
     Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.  Menurut Arifin (2012: 140) penelitian kualitatif adalah suatu proses penelitian yang dilakukan secara wajar dan natural sesuai dengan kondisi objektif di lapangan tanpa adanya manipulasi, serta jenis data yang dikumpulkan terutama data kualitatif.
Melalui penelitian kualitatif ini, peniliti berusaha untuk mendeskripsikan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa mengkondisikan peristiwa tersebut. Dalam penilitian kualitatif bukan mengkaji kebenaran teori, melainkan membangun sebuah teori dari hasil pengumpulan data yang ada. Penilitian ini akan menjabarkan keadaan dan hasil yang diperoleh dari “Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa SMP Pokok Bahasan Himpunan dengan Visualisasi Ditinjau dari Gaya Kognitif.”     
Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif eksploratif. Arifin (2012: 54) menyatakan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang digunakan untuk mendeskripsikan dan menjawab persoalan suatu fenomena yang terjadi saat ini. Penelitian ini berusaha mendeskripsikan suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan perlakuan khusus terhadap peristiwa tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti bukan hanya mendeskripsikan kejadian yang muncul, namun juga mengeksplorasi penyebab munculnya peristiwa tersebut.
     Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa. Data yang diperoleh dari siswa berupa hasil tes tentang materi himpunan dan wawancara dengan siswa tersebut.
     Sasaran dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kedunggalar tahun ajaran 2015/2016. Subyek penelitian diambil 2 siswa dari kelas VII, subyek wawancara dan tes dipilih berdasarkan gaya kognitif  field dependent atau gaya kognitif field independent yang dimilikinya, dan dapat berkomunikasi lisan serta mampu mengungkapkan pendapat.
     Dalam penelitian ini subyek yang akan dipilih harus diketahui terlebih dahulu gaya kognitifnya. Pengambilan subyek dalam penelitian ini digunakan tes GEFT.  Menurut Ulya (2015: 3) tes GEFT atau Group Embedded figure Test, yaitu tes yang digunakan untuk menentukan gaya kognitif siswa berupa tes psikiatrik yang dikembangkan Witkin (1997). GEFT merupakan tes baku di Amerika, sehingga perubahan pada GEFT sedapat mungkin tidak dilakukan. Dengan demikian alat ini tidak perlu diuji cobakan atau dikembangkan Hasbi (dalam Ulya 2015: 3). Peneliti menggunakan tes GEFT untuk menentukan gaya kognitif siswa termasuk gaya kognitif field dependent atau gaya kognitif field independent. Tes GEFT mengkaji kemampuan siswa melalui identifikasi bentuk sederhana yang berada dalam pola yang lebih rumit. GEFT mencangkup tiga bagian. Bagian pertama dianggap sebagai pengantar yang terdiri dari tujuh soal. Dua bagian yang lain (kedua dan ketiga) masing-masing terdiri dari sembilan soal.
     Setelah diperoleh instrumen tes GEFT, tes dilakukan pada siswa dalam satu kelas. Selama pengujian, petunjuk di halaman pertama pada awalnya dibacakan. Para siswa dapat mengerjakan setiap bagian dalam batas waktu 10 menit. Beberapa siswa yang menyelesaikan bagian dalam waktu lebih pendek tidak dizinkan untuk melanjutkan ke bagian berikutnya. Setelah dilakukan tes terhadap siswa dalam satu kelas, diperoleh skor masing-masing siswa. Berdasarkan skor yang diperoleh masing-masing siswa, dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok gaya kognitif dominan yakni kelompok field dependent dan field independent. Dari masing-masing kelompok diambil 1 siswa, sehingga didapatkan 2 subyek penelitian. Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer (sumber data yang langsung memberikan data kepada peneliti), dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan, wawancara mendalam, dan dokumentasi (Sugiyono, 2014: 62-63).    
     Pengumpulan data pada tes ini dilakukan dengan cara menghitung jawaban benar dan jawaban salah pada setiap siswa. Jika siswa menjawab benar maka diberikan skor 1 dan jika salah diberi skor 0. Adapun skor tertinggi yang menjawab dengan benar semua soal adalah 18.  Jika Siswa yang mendapatkan skor tes kurang dari atau sama dengan 9 (50% dari skor maksimal) akan dikelompokkan dalam gaya kognitif field dependent, sedangkan siswa yang mendapatkan skor tes lebih dari 9 (50% dari skor maksimal) akan dikelompokkan dalam gaya kognitif field independent (Adibah, 2015: 118). Lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel kriteria gaya kognitif siswa berikut:
Tabel Kriteria Gaya Kognitif Siswa
Skor
Gaya Kognitif
0 ≤ s ≤ 9
Field Dependent
0 < s ≤ 18
Field Independent
Keterangan s : skor siswa
     Tes pemecahan masalah matematika yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal cerita. Tes pemecahan masalah matematika sebagai instrumen penelitian harus valid. Oleh karena itu peneliti melakukan beberapa langkah untuk memperoleh instrumen penelitian yang valid. Pembuatan instrumen penelitian dimulai dengan mencari referensi tentang soal himpunan kelas VII SMP. Setelah diperoleh beberapa soal tentang himpunan, peneliti memilih satu soal yang dirasa dapat digunakan untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah siswa. Selanjutnya dilakukan analisis instrumen. Soal yang digunakan untuk penelitian harus dianalisis terlebih dahulu dan dikembangkan menjadi pedoman wawancara sehingga diperoleh draft instrumen. Setelah itu instrumen penelitian harus divalidasi. Validasi yang dilakukan adalah validasi ahli kepada  validator yaitu guru mata pelajaran matematika. Jika instrumen valid, maka instrumen dapat digunakan untuk penelitian. Namun jika tidak valid maka peneliti harus membuat instrumen lagi hingga valid.
     Jenis wawancara yang dilakukan oleh peneliti adalah wawancara semiterstruktur (Semistructure Interview). Wawancara dilakukan peneliti dengan subyek. Wawancara ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika pokok bahasan himpunann. Wawancara dilaksanakan pada saat jam istirahat atau pulang sekolah agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar pada bidang studi yang lain. Selama pelaksanaan wawancara, peneliti menggunakan catatan dan hasil pekerjaan siswa dalam menyelesaikan soal tes. Masing-masing responden diwawancarai secara terpisah agar data yang diperoleh terjamin keasliannya dan tidak saling mempengaruhi.
       Pada penelitian ini digunakan teknik triangulasi waktu. Triangulasi dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari hasil tes dan wawancara pada waktu yang berbeda terhadap subyek yang sama. Penggunaan metode ini bertujuan untuk mendapatkan temuan yang mendekati benar. Pada penelitian ini peneliti melakukan tes dan wawancara pada waktu yang berbeda dan subyek yang sama hingga data jenuh.
     Analisis data yang dipilih penulis dalam penelitian ini berdasarkan analisis selama di lapangan Model Miles & Huberman. Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2014: 91-99) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data yaitu:
     Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Pada penelitian ini reduksi data dilakukan dengan pemberian kode pada transkip wawancara. Pemberian kode digunakan untuk mempermudah penelusuran data yang penting pada paparan data yang ada.
     Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikankan data. Dalam penelitian kualitatif penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk tabel, grafik, phie chard dan sejenisnya. Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan sehingga akan semakin mudah dipahami.
     Langkah ketiga dalam analisis data adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat penelitian kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif yang diharapkan merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.

HASIL DAN PEMBAHASAN
     Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Pokok Bahasan Himpunan dengan Visualisasi pada Siswa SMP yang Memiliki Gaya Kognitif Field Dependent.
Memahami Masalah
     siswa dengan gaya kognitif field dependent dalam memahami masalah mampu mengulangi pertanyaan dan menjelaskan bagian terpenting dari pertanyaan tersebut meliputi apa yang ditanyakan dan apa yang diketahui. Hanya saja dalam penyelesaiannya di lembar jawab siswa dengan gaya kognitif field dependent menuliskan yang diketahui saja tanpa menuliskan yang ditanyakan, sesuai dengan langkah pemecahan masalah pertama Polya yaitu memahami pemecahan masalah.
Merencanakan Pemecahan Masalah
     Dalam merencanakan pemecahan masalah siswa mampu membuat strategi pemecahan masalah dengan memisalkan siswa yang suka matematika dan suka bahasa inggris. Siswa mampu merencanakan pemecahan masalah untuk mencari siswa yang suka kedua pelajaran dengan menggunakan rumus yang sudah pernah dipelajari sebelumnya. Siswa juga mampu menjelaskan cara mencari siswa yang suka matematika saja dan bahasa inggris saja, ini berarti siswa dengan gaya kognitif field dependent mampu merencanakan pemecahan masalah dengan baik.
Melaksanakan Rencana
      Siswa dengan gaya kognitif field dependent dalam melaksanakan pemecahan masalah siswa juga mampu menghitung siswa yang suka kedua pelajaran dengan menggunakan rumus. Siswa mampu mencari siswa yang suka matematika saja dan bahasa inggris saja dengan cara mengurangi siswa yang suka matematika yang diketahui di soal dengan siswa yang suka keduannya dan siswa yang suka bahasa inggris yang diketahui di soal dikurangi dengan siswa yang suka keduanya untuk siswa yang suka bahasa inggris saja. Siswa juga mampu menggunakan gambar visualisasi berupa diagram venn, siswa  menggambar lingkaran dengan menggunakan alat berupa koin Rp.500 dan menggambar persegi panjang untuk himpunan semesta dengan menggunakan alat berupa penggaris.
Memeriksa Kembali
     Siswa dengan gaya kognitif field dependent memeriksa kembali dengan membaca sekilas hasil pengerjaannya tanpa membaca berulang-ulang. Dalam memeriksa kembali siswa dengan gaya kognitif field dependent tidak mencocokkan dan menghitung kembali hasil pengerjaannya, dan tidak menuliskan lagi kesimpulan dari jawaban permasalahan.
    Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Pokok Bahasan Himpunan dengan Visualisasi pada Siswa SMP yang Memiliki Gaya Kognitif Field Indeependent.
Memahami Masalah
     siswa dengan gaya kognitif field independent Dalam memahami masalah siswa mampu menjelaskan maksud dari pertanyaan dalam soal, selain itu siswa yang memiliki gaya kognitif field independent juga mampu menyebutkan dan menuliskan informasi yang terdapat didalam soal berupa apa yang diketahui dan ditanyakan di dalam soal. Hal ini berarti siswa dengan gaya kognitif field independent mampu dengan cermat memahami permasalahan untuk memecahkan masalah matematika pokok bahasan himpunan.
Merencanakan Pemecahan Masalah
     siswa dengan gaya kognitif field independent Dalam merencanakan pemecahan masalah siswa mampu menggunakan strategi pemecahan masalah dengan memisalkan x sebagai siswa yang menyukai kedua pelajaran, mampu merencanakan pemecahan masalah untuk mencari siswa yang suka kedua pelajaran dengan menggunakan rumus yaitu dengan menggambar diagram venn, dan mampu menjelaskan cara mencari siswa yang suka matematika saja dan bahasa inggris saja, ini berarti siswa dengan gaya kognitif field independent mampu merencanakan pemecahan masalah dengan baik dan memunculkan visualisasi berupa diagram venn dalam merencanakan pemecahan masalah.
Melaksanakan Rencana
     Siswa mampu menghitung siswa yang suka kedua pelajaran dengan menggunakan rumus. Mampu mencari siswa yang suka matematika saja dan bahasa inggris saja dengan cara mengurangi siswa yang suka matematika yang diketahui di soal dengan siswa yang suka keduannya dan siswa yang suka bahasa inggris yang sudah dikatehui di soal dengan siswa yang suka keduanya. Mampu menggunakan gambar visualisasi berupa diagram venn. Mampu menggambar lingkaran dengan menggunakan alat berupa koin Rp.500. Mampu menggambar persegi panjang untuk himpunan semesta dengan menggunkan alat berupa penggaris. Menuliskan notasi matematika berupa S sebagai himpunan semesta. Hal ini berarti siswa dengan gaya kognitif field independent mampu melaksanakan apa yang telah direncanakan untuk memecahkan masalah, siswa mampu memunculkan visualisasi dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah dengan menggambar lingkaran untuk diagram venn dan persegi panjang untuk himpunan semesta, siswa juga mampu memunculkan notasi dalam visualisasinya.
Memeriksa Kembali
     Siswa field independent dalam memerika kembali siswa mampu memeriksa kembali hasil pengerjaannya dengan membaca secara berulang-ulang, mampu menghitung dan mencocokkan kembali hasil pengerjaannya, siswa juga mampu menuliskan kesimpulan dari hasil pengerjaannya. Hal ini menunjukkan bahwa siswa dengan gaya kognitif field independent mampu dalam memeriksa kembali hasil pengerjaannya. Jadi, siswa dengan gaya kognitif field independent mampu memeriksa kembali hasil yang diperoleh, sesuai dengan langkah pemecahan masalah keempat Polya yaitu merencanakan pemecahan masalah.
     Dari pembahasan yang didapat dari hasil analisis terlihat bahwa siswa dengan gaya kognitif field dependent dan siswa dengan gaya kognitif field independent memiliki kemampuan berbeda dalam memecahkan masalah. Hal tersebut relevan dengan hasil penelitian Arifin dkk (2015: 26) yang menyatakan: 1) profil pemecahan masalah matematika siswa Field Dependent adalah: a) Pada memahami masalah siswa kurang dapat menginterpretasikan soal tersebut dalam pemahamannya melalui tulisan, b) Pada merencanakan masalah siswa kurang dapat menganalisis informasi tersebut, c) Pada menyelesaiakan masalah sesuai rencana siswa kurang dapat menganalisis suatu permasalahan berdasarkan informasi yang telah didapatkan, d) Pada memeriksa kembali jawaban siswa tidak dapat mengecek kembali jawabanya sendiri. 2) profil pemecahan masalah matematika siswa Field Independent adalah: a) Pada memahami masalah siswa dapat menginterpretasikan soal tersebut dalam pemahamannya melalui tulisan, b) Pada merencanakan masalah siswa dapat memperoleh informasi sehingga dapat menganalisis informasi tersebut, c) Pada menyelesaiakan masalah sesuai rencana siswa bisa menganalisis suatu permasalahan berdasarkan informasi yang telah didapatkan, d) Pada memeriksa kembali jawaban siswa dapat mengecek kembali jawabanya sendiri.

SIMPULAN DAN SARAN
     Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Pokok Bahasan Himpunan dengan Visualisasi pada Siswa SMP yang Memiliki Gaya Kognitif Field Dependent tampak ketika memahami masalah, merencanakan pemecahan masalah, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali. Ketika memahami masalah siswa mampu membaca soal, mampu mengulangi pernyataan dan mampu menuliskan informasi dalam soal. Ketika merencanakan pemecahan masalah siswa mampu membuat strategi pemecahan masalah dan membuat rumus. Ketika melaksanakan rencana siswa mampu menghitung sesuai rumus dan mampu memunculkan visualisasi. Ketika memeriksa kembali siswa mampu membaca hasil pengerjaannya.
     Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Pokok Bahasan Himpunan dengan Visualisasi pada Siswa SMP yang Memiliki Gaya Kognitif Field Independent tampak ketika memahami masalah, merencanakan pemecahan masalah, melaksanakan rencana dan memeriksa kembali. Ketika memahami masalah siswa mampu membaca soal, mampu mengulangi pernyataan dan mampu menuliskan informasi dalam soal. Ketika merencanakan pemecahan masalah siswa mampu membuat strategi pemecahan masalah, mampu memunculkan visualisasi dan mampu membuat rumus. Ketika melaksanakan rencana pemecahan masalah siswa mampu menghitung sesuai rumus,  mampu memunculkan visualisasi dan mampu menggunakan notasi matematika. Ketika memeriksa kembali siswa mampu membaca hasil pengerjaannya, mampu mengecek kembali jawaban dan mampu menyimpulkan jawaban dari permasalahan.
     Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian ini sebaiknya guru merancang, mengembangkan, dan mengelola pembelajaran secara variatif disesuaikan dengan karakteristik siswa dan materi pelajaran yang disajikan agar dapat menjangkau dua tipe gaya kognitif siswa yaitu Field Dependent dan Field Independent, misalkan dalam materi yang terkait dengan bahasa simbol matematika guru sebaiknya memunculkan visualisasi dalam pembelajaran agar siswa dapat menyelesaikan masalah matematika dengan menampilkan data/informasi dalam bentuk simbol atau gambar. Selain itu, guru dan sekolah perlu melakukan pengkajian/identifikasi terhadap tipe gaya kognitif siswa secara keseluruhan. Hal tersebut diharapkan agar guru dapat menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya kognitif siswa sehingga tercapai kemampuan pemecahan masalah yang optimal.
     Siswa harus mengembangkan kemampuannya dalam pembelajaran. Untuk siswa yang memiliki gaya kognitif field dependent sebaiknya tidak takut bertanya bila belum jelas dalam memahami informasi. Untuk siswa yang memiliki gaya kognitif field independent sebaiknya belajar lebih terbuka dan menerima pendapat orang lain dalam memahami informasi. selain itu siswa harus sering melatih diri dengan soal-soal latihan khususnya pelajaran matematika. Dengan berani bertanya dan belajar terbuka dalam berpendapat menjadikan siswa berwawasan luas dan terampil dalam memecahkan masalah.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, M. 2010. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Adibah, F. 2015. Kreatifitas siswa  SMA dalam Pemecahan Masalah Matematika Ditinjau dari Perbedaan Gaya Kognitif  Field Dependent dan Field Independent. Jurnal Widyaloka IKIP Widyadarma Surabaya,  2 (2): 118.
Arifin, S., Rahman, A., dan Asdar. 2015. Profil Pemecahan Masalah Matematika Siswa Ditinjau dari Gaya Kognitif  dan Efikasi diri pada Siswa Kelas VIII Unggulan SMPN1 Watampone. Jurnal Daya Matematis, 3 (1): 26.
Arifin, Z. 2012. Penelitian Pendidikan        Metode dan Paradigma Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Asri dkk. 2013. Perkembangan Peserta Didik. Madiun: Ikip PGRI Madiun.
Darmadi. 2015. Profil Berfikir Visual Mahasiswa Laki-laki Calon Guru Matematika dalam Memahami definisi Barisan Konvergen. Jurnal Math Educator Nusantara, 1 (2): 108, 109, 127.
OECD. 2010. PISA 2009 results: What Students Know and Can Do Student Performance in Reading, Mathematics, and Science (Volume I). Tersedia di http//dx.doi.org/10.1787/9789264091450-en   [diakses   pada   tanggal   31   Maret 2016].
Sugiyono, 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfa Beta.
Syaiful. 2012. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Melalui Pendekatan Matematika Realistik. Edumatica, 2 (1): 37.
Ulya, H. 2015. Hubungan Gaya Kognitif dengan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa. Jurnal Konseling Gusjigang, 1 (2): 2, 3.
Uno, B. 2012. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar